Cara bercocok tanam

Posted: April 29, 2012 in News

PENYEDIAAN BIBIT

Tanaman lidah buaya berbatang pendek dan tersembunyi dalam tanah. Pada bagian batang inilah muncul anakan yang bergerombol mengelilingi tanaman induk. Anakan ini dapat digunakan sebagai bibit dengan cara memisahkan induknya. Anakan yang layak dijadikan bibit berukuran kira-kira sebesar ibu jari, dengan panjang antara 10 cm – 20 cm. Tiap batang induk dapat menghasilkan 5 – 8 batang yang berada di sekeliling tanaman. Untuk penanaman dalam jumlah banyak, perlu dilakukan penyiapan kebun bibit yang khusus menghasilkan bibit.

Tanaman induk penghasil bibit ini dipelihara secara khusus pada bedengan atau pot-pot agar menghasilkan anakan lebih banyak. Apabila sudah muncul anakan sebesar ibu jari dapat segera dipotong untuk dipindahkan pada tempat khusus, berupa bedengan pesemaian maupun polybag. Pendederan (pembibitan) ini dilakukan sampai akar tanaman kuat untuk dipindahkan ke lapangan. Lama pendederan bisa mencapai 3 – 4 minggu.

Untuk mendapatkan bibit yang seragam, subur, dan sehat maka anakan harus dipelihara secara khusus, mulai dari penyiraman secara teratur, penyediaan tanah pesemian yang subur, pemupukan secara periodik, serta pengendalian hama dan penyakit secara tepat, agar bibit tidak menjadi penular hama dan penyakit. Tanah pendederan dapat dicampur dengan pupuk kandang atau kompos agar lebih subur dan gembur. Bedengan yang bertanah gembur akan memudahkan pencabutan bibit.

Batang lidah buaya juga dapat disetek untuk perbanyakan. Namun karena berbatang pendek, sulit menjadikannya dalam jumlah banyak. Peremajaan tanaman dilakukan dengan memangkas batang lidah buaya, rata dengan tanah, untuk merangsang pertumbuhan anakan baru yang akan muncul disekitar batang. Selanjutnya, anakan dijadikan tanaman baru atau dipindahkan.

Sebelum ditanam, anakan ini ditanam dalam polybag kecil agar akarnya tumbuh banyak dan siap dipindahkan ke lapangan. Setiap polybag cukup di tanami 1 batang anakan sebesar ibu jari. Caranya, padatkan tanah di sekitar polybag agar akar atau bakal akar dapat langsung mengenai tanah.

Tanah untuk pembibitan harus gembur. Oleh karena itu, tanah dapat dicampur dengan pupuk kandang atau pupuk kompos yang bebas cendawa.

B.        JARAK TANAM

Tanaman lidah buaya tidak mempunyai tajuk yang rimbun, sehingga penanamannya dapat menggunakan jarak tanam yang rapat. Jarak tanam yang sering digunakan adalah jarak tanam baris tunggal, yang memudahkan pemeliharaan dan pemanenan.

Jarak tanam yang digunakan secara secara baris tunggal adalah 50 cm x 75 cm, 50 cm x 100 cm. Untuk bedengan lebar dapat digunakan jarak tanam 60 cm x 50 cm, atau seperti gambar berikut. Pengukuran jarak tanam yang baik akan memudahkan pemeliharaan selanjutnya, karena tanaman lidah buaya ini akan dipelihara dalam waktu yang lama.

C.        PENANAMAN

Penanaman lidah buaya sebaiknya menggunakan bibit yang telah dideder agar tingkat kematiannya rendah. Di samping itu, pemeliharaan tanaman dalam skala kecil (pada tempat pendederan)  jauh lebih mudah dibanding pemeliharaan tanaman yang sudah ditanam di lapang. Oleh karena itu, ditempat pendederan tanaman dipelihara secara lebih intensif guna mendapatkan tanaman yang sehat, subur, dam terseleksi, sehingga tanaman seragam.

Tanaman lidah buaya dapat ditanam pada setiap musim, tetapi penanaman yang baik dapat dilakukan pada awal musim hujan atau akhir musim kemarau. Pada musim hujan kendalanya adalah tanaman lebih mudah terserang jamur, sedangkan pada musim kering tanaman terancam mati karena kekeringan. Saat penanaman sebaiknya dipilih pada pagi atau sore hari, saat sinar matahari tidak terlalu terik untuk mengurangi kelayuan.

Bibit tanaman dilepas dari polybag dengan sangat hati-hati agar tidak terlalu banyak akar yang putus atau tanah tempat pendederan rontok. Penanaman dilakukan dengan membuat lubang pada bedengan kira-kira sedalam mata cangkul. Selanjutnya, bibit ditanamkan ke dalam lubang dan tanah di sekitar perakaran dipadatkan agar tanah dederan menyatu dengan tanah bedengan. Beri perlindungan secara individual pada setiap tanaman yang baru ditanam dengan gedebok pisang atau daun-daun an agar tanaman muda terhindar dari kelayuan. Di samping itu, apabila tidak ada hujan, tanaman baru harus disiram sampai tanaman kuat. Pada waktu itu tanaman dapat dipupuk dengan dosis rendah, untuk tiap hektar diberikan 100 kg Urea, 100 kg TSP, dan 50 kg KCI.

D.        PEMELIHARAAN

1.         Penyulaman

Sesudah penanaman, yang perlu untuk diperhatikan adalah menjaga kelembapan agar tanaman tidak kekeringan. Oleh karena itu, perlu dilakukan penyiraman secara kontinu, baik pagi maupun sore hari bila tidak hujan. Penyiraman ini dilakukan sampai akar tanaman tumbuh, sehingga mampu memenuhi kebutuhan airnya.

Selama dalam pemeliharaan ini apabila ada tanaman yang mati atau pertumbuhannya tidak baik harus segera diganti dengan tanaman baru.  Agar tanaman baru tersebut dapat mengejar pertumbuhan tanaman lainnya maka penyulaman harus dilakukan 1 – 3 minggu setelah tanam. Bibit  yang digunakan untuk menyulam berasal dari bibit pendederan yang sengaja ditinggalkan untuk penyuluman.

2.         Pemupukan

Sebenarnya belum ada rekomendasi yang tepat untuk pemupukan tanaman lidah buaya. Namun dalam pertumbuhannya diperlukan unsur-unsur nitrogen dan kalium untuk pembentukan zat hijau daun, pertumbuhan vegetatif tanaman, dan pembentukan jaringan tanaman. Adapun pemupukan fosfat, diharapkan dapat merangsang pertumbuhan dan perkembangan akar. Menurut pengalaman petani, dosis pemupukan dapat mengikuti petunjuk berikut.

No. Saat  Pemberian Urea TSP KCI Keterangan
123 Saat tanamUmur 3 – 4 bulanSelesai panen I 100100100 100– 505050 Dosis perhektar

 

Untuk memperbaiki struktur tanah, selain diberikan pupuk buatan juga perlu diberikan pupuk organik, seperti kompos dan pupuk kandang berupa kotoran sapi, kambing, dan ternak unggas. Menurut pengalaman para petani, ternyata pupuk kotoran sapi lebih baik, karena banyak mengandung unsur hara, terutama nitrogen dan unsur mikro lainnya. Di samping itu, kotoran sapi yang telah matang tidak merangsang pertumbuhan jamur. Sementara itu, pupuk kotoran unggas sering mengundang penyakit yang bersal jamur.

3.         Pembumbunan

Pada umur 3 bulan  tanaman sudah mulai tumbuh subur. Agar tanaman sudah mulai menjalar ke sekitar bedengan. Untuk mendekatkan makanan, menggemburkan tanah, dan memperkokoh berdirinya tanaman, tanaman perlu dibumbun dengan cara menaikkan tanah di sekitarnya dan dipadatkan ke sekitar batang tanaman.

Pembumbunan biasanya juga diiringi dengan kegiatan pengendalian gulma dan pemupukan susulan. Pada waktu pembumbunan ini sekaligus juga dilaksanakan penyobekan tanaman yang sudah menghasilkan anakan. Tanaman yang memiliki terlalu banyak anak pertumbuhannya akan terhambat. Di samping itu, penyobekan juga berguna untuk memperoleh anakan yang akan digunakan sebagai bibit.

4.         Penyobekan

Pada umur 5 – 6 bulan tanaman sudah mulai mengeluarkan anakan dari batang yang terpendam dalam tanah. Anakan ini perlu disobek atau dipisahkan untuk dijadikan bibit. Selain itu, bila dibiarkan anakan ini akan banyak tumbuh di sekitar induknya sehingga menjadi beban bagi induknya. Pertumbuhan induk menjadi terhambat, dan tanaman kerdil.

Bila akan dijadikan bibit, saat inilah kita mulai memisahkan anakan untuk kemudian dideder. Penyobekan atau pemisahaan anakan dari anakan induk ini dilakukan dengan hati-hati menggunakan pisau yang tajam.

5.         Pengendalian Gulma

Tanaman lidah buaya tidak memiliki daun yang rimbun sehingga tanah di sekitar pertanaman terbuka. Hal ini mengundang banyak yang tumbuh secara liar, apalagi tanaman akan dipelihara terus sampai beberapa tahun. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengendalian gulma secara kontinu, yaitu pada saat gulma nasih kecil pengendaliannya mudah dan biayanya lebih murah. Pengendaliaan gulma dapat dilakukan dengan dilakukan dengan cara mencabut secara manual dengan tangan, menggunakan alat cangkul atau koret, mendangir sambil membumbun, atau menggunakan bahan kimia herbisida.

Beberapa jenis gulma yang merugikan adalah alang-alang (Imperata cylindrica) , rumput gerinting (Cynodon dactylon), rumput teki (Cyperus rotundus), krokot (Portuaca spp.), kangkung (Ipomorea sp.), dan lain-lain. Di daerah yang mempunyai curah hujan tinggi, lebih dari 2.000 mm/tahun pertumbuhan gulmanya relatif tinggi. Selain itu, penggunaan pupuk kandang, terutama penggunaan pupuk kandang, terutama kotoran sapi, juga sering menjadi pembawa bibit rumput. Oleh karena itu, penggunaan pupuk kandang harus menggunakan pupuk yang sudah masak betul (sudah lapuk) sehingga bibit gulma yang ada sudah mati.

Selain menjadi saingan dalam perolehan makanan dan sinar matahari bagi tanaman utama, gulma juga sering menjadi tanaman inang bagi hama dan penyakit.

E.         PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT

1.         Hama Ulat Pemakan Daun

Kerusakan akibat serangan hama belum dilaporkan secara serius. Hama yang sering mengganggu adalah ulat penggerak daun pada tanaman muda. Ulat ini sangat mengganggu karena mengakibatkan pertumbuhan tanaman terganggu. Pengendalian hama ulat ini dilakukan dengan menyemprotkan insektisida.

2.         Hama Bekicot

Hama bekicot dan sejenis siput kecil merusak daun. Pengendaliaan hama bekisot dapat dilakukan secara manual. Hewan lunak ini cukup mudah ditangkap dan dibunuh atau dikumpulkan untuk dijadikan pakan ayam atau itik.

Hama ini sangat menyenangi tempat yang lembap. Lubang dan semak-semak yang lembap merupakan tempat yang cocok untuk bertelur dan berkembang biak. Oleh karena itu, sanitasi lingkungan sangat diperlukan untuk mengatasi hama ini.

3.         Penyakit

Penyakit yang sering menyerang tanaman lidah buaya adalah golongan jamur yang meyebabkan busuk pada pangkal batang, atau pangkal daun, seperti Fusarium Sp. yang menyerang akar atau pangkal batang sehingga tanaman layu dan kemudian mati.

Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan mengatur drainase tanah agar lancar, karen cendawan ini sangat menyukai lahan yang drainasenya jelek dan lembap. Tanaman yang terserang harus dimusnahkan dengan jalan dibakar dan tempat bekas tanaman diisolasi agar tidak menularkan penyakit pada tanaman lain. Pengendalian secara kimia dilakukan dengan penggunaan fungisida yang berbahan aktif dazomet, captafol atau benomyl, seperti Basamid G, Benlete atau Vapam. Penggunaannya dilakukan dengan cara disemprotkan pada tanaman atau dengan pencelupan pada akar tanaman sebelum tanaman ditanam.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s